Exclusive Interview: Livienne Russelia, di Balik Sukses Lulur Susu Kambing

Rerre Adysti 2017-09-20

Siapa yang tidak kenal Vienna, brand perawatan kulit yang populer dengan kandungan susu kambing? Mulai dari body wash, lotion, sampai lulur, Vienna berhasil mengubah bahan yang tidak lazim ini menjadi rangkaian produk skincare.

Di balik kesuksesan Vienna, ada sosok tangguh bernama Livienne Russelia, CEO PT Cakra Daya Makmur yang menaungi label Vienna ini berhasil memimpin bisnis Vienna dari semula berskala kecil hingga kini produknya dapat ditemukan dimana-mana.

PamperPop berkesempatan menemui wanita enerjik ini di restoran Cascade, Hotel Mulia, Jakarta, Minggu (16/10) lalu. Wanita yang akrab disapa Livi ini membeberkan kisah perjuangannya sejak dulu hingga kini.

 

Orang-orang melihat Anda sebagai seorang entrepreneur. Di belakang sosok itu, bagaimana Anda memulai karir?

Saya berawal dari ibu rumah tangga. Tahun 2002, kondisi ekonomi mendorong saya untuk bekerja. Saya tidak punya modal, jadi saya memulai bisnis yang tanpa modal, contohnya menjual asuransi. Setelah itu saya menjual komoditi, kue, dan pakaian. Pekerjaan kecil yang orang lain sepelekan sudah saya lakukan. Saya nggak peduli keren atau enggak, saya enggak gengsi yang penting halal. Kebetulan saya asli Pontianak. Orang tua Saya bukan pengusaha besar, Papa saya cuma jualan di pasar. Kita masing-masing diajarkan untuk mandiri, tidak manja dan harus sabar. Orang tua saya betul-betul mengajarkan ketekunan.

Lalu bagaimana akhirnya masuk ke bisnis skincare?

Awalnya saya tidak pernah terpikir untuk menjajal bisnis kecantikan. Saat itu, tahun 2002-2003, saya sedang berbisnis kacang yang sudah merambah penjualan ke mini market dan supermarket. Berbekal kemampuan di bidang sales dan marketing, saya pun mencoba masuk ke retail-retail top, hingga bisnis ini masuk skala nasional.

Saat itu saya mulai berpikir, saya tidak selamanya hanya berbisnis kacang. Ditambah lagi, tersendah kendala distribusi dan masa penyimpanan yang pendek. Lalu saya mencoba menjad iimportir susu kalengan, makanan, minuman, termasuk juga kosmetik, seperti sabun, lotion, dan sabun wajah. Ternyata kosmetik inilah yang laris.

Saat itu baru distributor saja? Kapan mulai terpikir untuk produksi sendiri?

Ya, masih distributor saja, itupun serba sulit, masih harus berjuang mendapat kepercayaan untuk memegang brand. Ditambah lagi pada tahun 2006 pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi produk impor. Akhirnya saya vakum satu tahun, hanya meratapi nasib saja. Kemudian saya berpikir, kita harus ubah strategi, harus buat sesuatu di negara kita sendiri. Saya membentuk tim dengan dukungan teman-teman dokter ,ahli farmasi, dan ahli kimia untuk membuat produk sendiri. Kebetulan saat itu saya sedang kuliah S2 Farmasi Kosmetikdi Universitas Pancasila sekaligus juga S2 Manajemen Branding, jadi cukup relevan. Tahun 2007, brand Vienna hadir. Berawal dari produk lulur dan sabun dengan bahan susu kambing. Produksi masih rumahan. Tahun 2008 mulai distribusi.

Bermula dari ibu rumah tangga sekarang menjadi pengusaha. Seperti apa transisinya?

Saya ini Superwoman. Saya harus tetap mengurusi anak-anak. Sebelum keluar harus siapkan tetek-bengeknya, pulang juga harus bersih-bersih lagi. Namanya down itu pasti ada, sampai sekarang ini keringat dan air mata yang keluar tidak sedikit. Mengurus bisnis dengan bekerja itu beda. Kita harus merintis dari nol. Mau ketemu orang aja masih sering ditolak, tapi bagi saya itu hal kecil. Hari ini kegagalan itu jadi kekuatan bagi saya, susah-susah saja sudah lewat.

Dukungan dari suami seperti apa?

Suami saya sangat positif. Wanita bisa berkarir seperti ini pasti dengan dukungan keluarga. Sepintar-pintarnya kita, kalau tanpa dukungan keluarga, tidak akan jadi apa-apa. Saya bersyukur suami mendukung anak-anak juga mendukung, karena mereka motivasi saya yang pertama. Begitu juga dengan para karyawan, kepercayaan mereka kepada saya dan perusahaan harus dipegang baik-baik. Kemudian, dukungan dari masyarakat yang menggunakan produk kami. Produk kami laku karena mereka percaya kepada kami. Tiga poin inilah yang menjadi motivasi saya.

Di tengah kesibukan, bagaimana mengatur waktu dengan keluarga?

Secara kuantitas waktu memang susah, habis dipakai macet berjam-jam di jalan. Jadi kami jaga dari segi kualitas. Memang saya sering pulang malam, tapi kalau weekend harusnya sama-sama. Mau makan bersama, jalan bersama, sampai main gadget bersama, pokoknya togetherness. Setiap tahun diusahakan liburan bersama keluarga.

Anak-anak sempat protes dengan kesibukan ibunya?

Tidak pernah, karena mereka juga sibuk, pulang saja sore. Bahkan sebelum matahari terbik mereka sudah berangkat. Sebisa mungkin saya melibatkan keluarga kalau ada kunjungan ke luar kota. Kunjungan ke kantor cabang di daerah atau distributor, kalau bisa saya bawa anak-anak. Begitu juga kalau ke luar negeri. Sampai-sampai di kantor ada ruang bayi, lengkap dengan semua peralatan. Sambil kerja, saya bisa lihat anak saya. Dulu waktu awal-awal pakai pengasuh, saya jadi tidak tenang.