Bahaya Toxic Relationship dan Cara Menghentikannya Ala Catwomanizer

Dimas Wahyu 2019-10-11

cover-bahaya-toxic-relationship-dan-cara-menghentikannya-ala-catwomanizer

Apa yang terjadi saat kamu harus mengubah diri karena pacarmu? Semua gerak-gerikmu membuat cemas atau takut dimarahi oleh pacar? Apa kamu merasa dibentuk oleh pasangan sehingga ia mendapatkan kuasa lebih dalam hubungan tersebut? Hati-hati, jangan-jangan kamu berada dalam sebuah toxic relationship.

Andrea Gunawan, yang lebih populer sebagai @catwomanizer, bersama Asaelia Aleeza dari UbahStigma.org membahas bahayanya toxic relationship di OH Beauty Festival, 11 Oktober 2019, di Plaza Indonesia.

Bagi Andrea, seringkali hubungan beracun ini terlambat dideteksi, karena kita tidak menyadari seberapa besar efeknya pada hubungan maupun diri kita sendiri. Rasa percaya bahwa pasangan tidak akan melakukan tindakan negatif juga membuat sinyal toxic relationship semakin bias.

“Memang awalnya sangat susah untuk mendeteksi bahwa diri sendiri berada dalam toxic relationship. Masa sih, pacar sendiri bisa melakukan itu? Bukannya ia sayang?" tutur Andrea saat memberi gambaran betapa sulitnya menyadari hal tersebut.

Banyak dari korban yang memang tertutup oleh kata-kata manis dan “cinta” yang diberikan oleh pasangan. Sampai-sampai, korban berpemahaman bahwa suatu tindakan kekerasan seperti membentak atau memukul merupakan tanda sayang atau cinta.

Sedangkan menurut Asaelia, toxic relationship dapat memiliki efek negatif yang bersifat jangka panjang.

“Hubungan yang tidak sehat bisa menghambat perkembangan kita sebagai manusia. Lebih parahnya lagi, akumulasi kecemasan dapat menghasilkan depresi di kemudian hari," ujarnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika ternyata kita berada dalam toxic relationship?

Sebelum memutuskan untuk mengakhiri satu pihak, cobalah untuk mendiskusikannya baik-baik. Langkah pertama ialah mengkomunikasikan semua perasaan negatif yang dirasakan akibat perilaku buruk pasangan. Namun sebelumnya, kamu harus memberitahu bahwa pembicaraan serius akan dilakukan dan memohon agar pesan yang diterima dicerna dengan baik, serta diharapkan tidak ada judgement berlebihan dari lawan bicara.

Kira-kira, pembicaraan dimulai dengan, “Aku mau ngomong serius sama kamu. Nanti omongan aku mungkin terasa menyakitkan oleh kamu, tapi aku harap kamu bisa mencerna baik-baik dan tidak ada judgement setelah aku selesai bicara. Aku mohon kamu bisa dengarkan kata-kata aku.”

Setelah itu, baru kamu boleh mengeluarkan semua keluhanmu. Namun, bahasa yang harus dipakai pun tidak boleh sembarangan.

Asaelia mengatakan, struktur pembawaan pesan terbaik dimulai dengan, “Aku merasa bahwa…” yang diikuti dengan penjelasan emosi, seperti marah atau sedih. Setelahnya, jelaskanlah perilaku yang membuat kamu emosi atau marah secara netral tanpa melabeli perilaku. Contohnya, “Aku merasa sedih saat kamu membentak-bentak aku kemarin, padahal niat aku hanya ingin berbicara padamu.”

Apabila hal-hal tersebut telah dilakukan dan pasangan masih belum bisa diajak berbicara baik-baik, apalagi kalau ia malah menyalahkan dirimu, bagaimana? “Blok saja dan jangan ajak berbicara lagi. Kalau tidak bisa diajak berbicara baik-baik secara dewasa, ya sudah jangan dipacari lagi," tegas Andrea.

Setelah putus pun, perjuangan melepaskan racun yang ditinggalkan oleh abuser belum berakhir begitu saja. Masih ada trauma yang dirasakan dan mungkin mempengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari seperti pekerjaan dan pertemanan. Asaelia dan Andrea setuju bahwa tidak ada salahnya pergi ke psikolog dan menjalankan konseling.

“Kunjungi psikolog saja kalau misalnya hidupmu sudah terlalu terpengaruhi,” pungkas Andrea.

(Sumber cover: Instagram @catwomanizer)

TAGS :