Fourfifteen, Meramu Seni Menunggu dalam Bisnis Barbershop

Dimas Wahyu 2018-10-30

cover-fourfifteen-meramu-seni-menunggu-dalam-bisnis-barbershop

Lazimnya, barbershop dikemas dalam ruangan yang mungil dan terbatas. Di satu sisi, hal ini menghasilkan suasana yang intim, tetapi sayangnya, membuat barbershop menjadi penuh sesak di hari-hari sibuk seperti weekend. Tidak jarang calon pengunjung yang mengurungkan niatnya untuk grooming setelah melihat barbershop penuh dengan area tunggu yang terbatas atau bahkan tidak ada tempat menunggu sama sekali.

Langkanya barbershop yang menyediakan ruang tunggu memadai bagi para calon pengunjung inilah yang membuat Ryan Perdana, Reza Palupi, Satya Mahardhika, Bondan Febrianto, dan Rizka Vega meramu formula bisnis barbershop dengan konsep unik. Fourfifteen, barbershop yang berlokasi di kawasan Bintaro Sektor 7, hadir dengan konsep all-in-one yang memadukan barbershop, coffee shop, refleksologi, dan jasa shoe cleaning. Dengan memadukan empat bisnis menjadi satu, para pengunjung dapat menunggu giliran mencukur rambut sambil menikmati layanan Fourfifteen yang lain, mulai dari menyeruput hidangan kopi, pijat refleksi, maupun membersihkan sepatu.

Konsep all-in-one ini mulai nampak keampuhannya. Salah satu pendiri Fourfifteen, Rizka Vega, mengaku terkejut melihat omzet keempat lini bisnis ini saling berbalapan. "Ternyata, menunggu adalah sebuah seni tersendiri," bagi Vega. Baginya, kehadiran layanan alternatif ini dapat dimanfaatkan oleh keluarga atau pasangan yang berkunjung ke Fourfifteen, dimana para wanita dapat menunggu di coffee shop sementara pasangan atau anaknya cukur rambut. Tidak perlu lagi dibuat bosan menunggu sambil membaca majalah atau bermain ponsel.

"Ekspektasi kami, akan banyak anak-anak muda yang datang ke Fourfifteen. Surprisingly, banyak keluarga yang datang ke sini. Ibu-ibu yang awalnya segan membawa anaknya ke barber karena kesannya dewasa, begitu datang ke sini menjadi nyaman," papar Ryan Perdana yang juga pendiri Fourfifteen.

Bagi warga Bintaro, lokasi Fourfifteen yang berdekatan dengan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dikenal sebagai salah satu pusat kemacetan. Namun, bagi para pendiri Fourfifteen, hal ini memiliki keuntungan tersendiri, karena tak jarang mereka kedatangan pengunjung para pria yang terjebak macet di jalanan sepulang kerja. "Mereka yang pulang dari kantor akhirnya parkir di sini, karena lelah terjebak macet," ungkap Ryan dalam wawancaranya bersama PamperPop, Rabu (24/10). Ia menambahkan, tempat parkir yang luas di halaman Fourfifteen membuat para pengendara mobil dan motor lebih leluasa saat berkunjung.

Mengelola bisnis barbershop, tentu tidak sekedar memainkan faktor lokasi strategis. Fourfiften juga memberikan perhatian lebih saat merekrut barber. Salah satu barber yang memperkuat tim Fourfifteen yakni Yudis, pria asal Garut yang sudah cukup veteran di dunia barber. Tidak hanya piawai memainkan gunting, Yudis juga menilai kemampuan berkomunikasi sangat penting dimiliki seorang barber. "Saya pasti sering tanya ke customer, yakin mau potong rambut dengan style seperti ini? Mau coba style baru, nggak?" tutur Yudis. "Barber harus bisa memberi saran yang tepat. Kalau cuma potong rambut, orang lain juga bisa."

Pernyataan ini diamini Ryan, yang menilai bahwa hal ini searah dengan strategi Fourfifteen dalam merekrut seorang barber. "Menurut saya, kalau barber tidak memberikan saran, itu berarti barber yang tidak bijak," tegasnya. Ryan dan tim Fourfifteen berharap para pengunjung akan kembali karena merasa puas dan menikmati layanan berkualitas tinggi, baik untuk cukur rambut, refleksi, dan layanan lainnya. Dengan harga mulai dari Rp50.000 untuk cukur rambut, Fourfifteen layak menjadi pilihan bagi para pria yang tengah terjebak macet di kawasan Bintaro atau yang ingin menikmati suasana baru.

Daftar harga dan menu Fourfifteen, klik di sini.

(Foto: dok. Fourfifteen)

TAGS :